Rabu, 21 Agustus 2013

Hubungan Antara Amal Kebaikan dan Kelahiran




APA sih hubungannya antara amal kebaikan dan kelahiran? Nampaknya tidak ada hubungannya secara langsung. Tetapi bagi seorang suami yang sedang menunggu kelahiran anaknya, dua perkara ini bisa mempunyai hubungan yang erat.

Selama istri hamil, atau malah sebelum istri hamil, suami perlu melakukan suatu amal kebaikan yang berkualitas. Karena amal itu bisa dipakai pada saat proses kelahiran agar istri diberi kelahiran yang mudah oleh Allah. 

Istri mudah melahirkan dan anak lahir dengan sehat dan sempurna. Pengalaman saya saat istri melahirkan anak pertama, sungguh tidak bisa terlupakan. Saat kelahiran itu saya jauh dari orang tua/mertua dan saudara. Kami beda kota.

Waktu anak pertama saya mau lahir, saya cemas bukan kepalang. Karena ketuban pecah dan keluar berwarna keruh kehijauan. Dokter bilang, harus ada tindakan bila tidak segera ada tanda-tanda mau melahirkan. Sebab si bayi bisa keracunan di dalam kandungan.

Istri melahirkan di RS Ibu dan Anak (RSIA) Ummu Hani di Jalan DI Panjaitan, Purbalingga. Saat itu istri ditangani bidan dan perawat. Oleh mereka, atas petunjuk dokter, istri dipasangi oksigen. Nafas istri tersengal-sengal. Dia terus menerus mengucapkan lafal Allah.

Saya panik melihat istri seperti itu. Apalagi air ketuban berwarna keruh terus saja keluar.  Saya tinggalkan istri. Saya masuk kamar. Saya sholat sunnah 2 rokaat. Setelah itu saya berdoa menangis minta keselamatan istri dan calon anak saya. 

Bagaimana saya tidak panik. Saya menunggu kehamilan anak pertama itu sudah hampir 7 tahun. Saya tidak bisa membayangkan bila harus kehilangan anak itu atau kehilangan istri tercinta.

Ketika berdoa dan menangis itu, saya teringat kisah teladan ttg 3 orang yang  terperangkap gua. Setiap orang berdoa kepada Allah dengan menceritakan amal kebaikannya yang paling utama dan berharap Allah membukakan goa yang tertutup batu besar.

Ketika itu saya mencoba mengingat-ingat amal apa yang paling utama yang pernah saya lakukan. Saya teringat, selama saya SMA, kuliah, bahkan setelah kerja, saya meluangkan waktu mengajar anak2 mengaji, baik di rumah maupun di masjid.

Amal itulah yang saya sampaikan kepada Allah. “Ya Allah, hamba melakukan semua amal itu semata-mata mengharap rida-Mu. Bila Engkau rida dengan apa yang sudah hamba lakukan selama itu ya Allah, selamatkan istri dan anak hamba. Berilah kemudahan dalam proses kelahirannya…” doaku saat itu.

Setelah doa dirasa cukup, saya segera berlari lagi mendampingi istri yang masih mengerang-erang di ruang bersalin. Ternyata proses persalinan kurang berjalan lancar. Sebab anak saya terlilit usus (berkalung usus ibunya).

Saya melihat keadaan anak saya karena saya memegangi pundak istri dari belakang, membantu mengangkat punggungnya ketika disuruh bidan. Saat diangkat keluar, rupanya anak saya terlilit 1 lilitan di leher dan 2 lilitan usus di bagian kaki.

Dan saat dilepaskan dari lilitan usus, anak saya tidak menangis. Nampaknya ada air ketuban yang masuk mulutnya. Dia segera diletakkan di bed sebelah istri dan segera dikerubuti bidan dan perawat yang lain. Tak berapa lama, terdengar tangis anakku meski tidak terlalu keras.

Saya langsung sujud syukur di situ. Kupeluk istriku yang masih bermandikan peluh. Kami menangis bahagia. Alhamdulillah… terima kasih ya Allah atas karunia-Mu yang besar ini.
………………….
Nah, dari pengalaman tadi, baik suami atau istri, perlu sedari awal, sedari sekarang, ayo lakukan amal utama. Amal ini bisa menjadi wasilah/penolong kita di saat genting, di saat ada pertaruhan nyawa, pertaruhan hidup dan mati.(***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar